Cara Meraih Gelar Premier League

Chelsea WIn

Melihat judul di atas, sepertinya artikel ini akan memaparkan cara meraih gelar Premier League yang bergensi
untuk para klub yang bermain didalamnya. Jika ditilik , maka aspek terbesarnya adalah Lini serang yang kuat, atau
palang pintu pertahanan yang kokoh ?

Tidak hanya dua aspek tersebut tapi , Keberuntungan, kebersamaan, talenta, determinasi, semangat, dan sikap
pantang menyerah adalah sederet alasan yang secara gamblang, menjelaskan bagaimana cara untuk meraih gelar
juara di kompetisi sepakbola. Tim yang bagus akan menggabungkan semua elemen tersebut, dan berusaha untuk
mempertahankannya agar semakin menguatkan dominasi terhadap klub lain.

Tidak terkecuali di Premier League, dianggap sebagai liga terbaik di dunia juga mengharuskan sang jawara untuk
menguasai elemen-elemen penting yang sudah disebutkan di atas. Namun, seringkali hal itu saja tidak cukup.
Sebab, Premier League juga mempunyai keunikan tersendiri yang mungkin berbeda pula dengan pakem liga-liga
lain.

Di Inggris, hampir kebanyakan tim juara pasti punya penyerang yang bisa mencetak minimal 20 gol dalam satu
musim. Dilansir ESPNFC, sejak 2009 kebanyakan juara EPL pasti memiliki tipikal karakter seperti itu, dengan rasio
mencetak gol setidaknya mencapai 0.67%. Memang ada anomali, seperti kasus Chelsea 2004/2005 yang ‘hanya’
memiliki striker dengan torehan 13 sebagai pencetak gol terbanyak. Namun, hal seperti itu bisa dibilang jarang
ditemui. Bandingkan dengan Liga Italia, misalnya. Juventus memenangi empat titel serie-A secara berturut-turut,
dengan lebih memfokuskan pada lini pertahanan terlebih dahulu. Juventus pasti kebobolan tidak sampai 25 gol
ketika menjalani 38 laga sebagai jawara Italia, meskipun lini serangnya tidak segarang klub-klub elit Eropa lainnya.
Musim lalu Tevez memang mencetak 20 gol, tapi di tiga musim sebelumnya Juventus hampir tidak pernah
menemukan sosok predator yang ada di klub lain seperti Ronaldo, Messi, Aguero, Soriano, atau Zahavi. Anda bisa
membayangkan, bagaimana memenangi parade taktikal di Italia dengan menggantukan nasib pada striker macam
Matri, Vucinic, Boriello, atau Giovinco?

Tim Inggris punya keunikan tersendiri, dengan karakter permainan yang lebih mengutamakan daya gedor dibanding
palang pertahanan. Mereka memang sudah menanamkan filosofi menyerang sejak dalam pikiran. Manchester
United, misalnya. Mereka pernah kebobolan 35 gol ketika Vidic dan Ferdinand sedang berada di masa keemasan di
musim 2008/2009. Di 2012/2013, mereka malah kebobolan 43 gol. Namun, di kedua musim itu The Reds Devils
sama-sama berhasil angkat trofi. Mereka menutup ‘celah’ ini dengan daya gedor yang lebih tajam. Di dua musim
itu, mereka mencetak 66 gol dan 86 gol.

Manchester City dan Liverpool lebih gila lagi pada musim 2013/2014. Peringkat satu dan dua itu kebobolan 37 gol
dan 50 gol, tapi berhasil menyarangkan 102 dan 101 gol dalam 38 laga. Dalam kasus ini, boleh dibilang mereka
lebih butuh sosok striker kelas wahid jika memang ingin angkat trofi di akhir musim. Statistik membuktikan itu, dan
tren bermain Premier League dalam beberapa musim terakhir juga menyuguhkan fakta tersebut. Bahkan oleh
Chelsea kampiun musim 2014/2015 yang disebut sebagai tim parkir-bus, tapi punya raihan gol kedua terbanyak dan
menempatkan strikernya di posisi kedua daftar top-scorer.

Musim lalu, Chelsea bermain pragmatis. Menurut Mou, taktik seperti inilah yang diperlukan untuk memenangi gelar
juara Premier League. Sedangkan Wenger, bersikukuh bahwa permainan terbuka dan atraktif milik Arsenal bisa
mendatangkan trofi musim depan, sebab Manchester juga pernah melakukannya beberapa musim lalu. Wenger
juga mengatakan, bahwa untuk menjadi tim juara sebuah klub harus terus berinovasi dan tidak bisa menerapkan
skema serupa dalam 38 laga secara terus menerus.

Menurut sang Arsitek Arsenal, penyesuaian tim dan ke-fleksibel-an kala berhadapan dengan tim yang memiliki karakter
berbeda adalah sebuah keharusan. Pendapat Mourinho dan Wenger tentu tidak salah, karena keduanya kini adalah
dua manajer terbaik di dataran Inggris. Tapi jika menilik prestasi klub di Premier League dalam satu dekade
terakhir, Anda tentu paham harus lebih mendengarkan masukan milik siapa.

Clip to Evernote